Kami telah
meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak, diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat :
tasik yang tenang, tiada beriak, diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat :
“Ombak ria
berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega.”
di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega.”
Sejak itu jiwa
gelisah, Selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku, gunung pelindung rasa penggalang.
Berontak hati hendak bebas, menyerah segala apa mengadang.
Gemuruh berderau kami jatuh, terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang, dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti, pekik dan tempik sambut menyambut
Ketenangan lama rasa beku, gunung pelindung rasa penggalang.
Berontak hati hendak bebas, menyerah segala apa mengadang.
Gemuruh berderau kami jatuh, terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang, dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti, pekik dan tempik sambut menyambut
Tetapi betapa
sukarnya jalan,
badan terhempas, kepala tertumbuk, hati hancur, pikiran kusut,
badan terhempas, kepala tertumbuk, hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiadalah
ingin, ketenangan lama tiada diratap
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat
Judul Abaimaida News:MENUJU KE LAUT






Posting Komentar